Ragam Informasi
Trending

Ruwat Desa Kebaron Mengelar Wayang Kulit Gagrak Porongan Semalam Suntuk

Sidoarjo, Mediajurnalindonesia.id – Ruwat desa adalah salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang sarat dengan berbagai makna. Ruwat desa busa diartikan sebagai rasa syukur atas apa yang sudah diperoleh selama ini seperti paman yang melimpah dan lainnya serta memohon kepada Allah SWT agar dihindarkan dari mara bahaya, bencana atau wabah (pageblug – jawa) di waktu yang akan datang. Kegiatan ini biasanya dimulai dari Khotmil Quran, ziarah ke makam pendiri desa (babat alas – jawa) dan di tutup dengan pagelaran wayang atau yang lainnya.

Untuk itulah Desa Kebaron mengadakan ruwat desa dengan puncak acara pagelaran wayang kulit dengan lakon Wahyu Ketentraman dimainkan oleh Ki Dalang Didik Iswandi di pendapa Balai Desa Kebaron di hadiri sekitar seribuan warga desa dan masyarakat di sekitarnya.

Suwito Kepada Desa Kebaron mengatakan karena ini sesuai sesuai surat edaran dari bupati. Maka dibuat pagelaran wayang kulit gagrak (versi) porongan karena kita utamakan itu dalang dari lokal. Jadi dalang lokal inilah yang kita tonjolkan supaya lebih dikenal masyarakat. Memang betul surat edaran dari pemerintah untuk kita tindaklanjuti. Alhamdulillah untuk menghidupkan budaya-budaya dari para wali dulu, melalui budaya syiar Islamnya. Wayang Gagrak Porongan ini kalau saya menanggapi pribadi Inilah kita memunculkan bahwa di Sidoarjo ini banyak yang ahlinya dalam seni dan budaya. Makanya itu saya dukung dengan saya undang dalang dengan gagrak porongan dan kebetulan pas Bulan Ruwah. Untuk menampilkan kesenian wayang yang mana dengan nantinya itu untuk antara budaya dan agama bisa sejajar. Karena itulah simbol dari kepribadian saya.

BACA JUGA   Bupati Djohan Sjamsu Buka Bimtek dan Monev Pengendalian Gratifikasi Di Lingkup Pemda KLU

“Sesuai dengan surat edaran dari Bupati Sidoarjo yang menghimbau agar apabila mengadakan ruang desa atau menggelar wayang memakai gagrak porongan dan bisa menjadi Ikon Kabupaten Sidoarjo, “kata Suwito

“Saat ini bisa dikatakan jaman Millenium semua serba canggih, tapi jangan sampai kebudayaan Nusantara punah tergerus oleh kemajuan teknologi maka dari itu kita mengadakan kegiatan seperti ini untuk melestarikan kebudayaan Nusantara, “tandanya

BACA JUGA   Keseruan Emak Emak Cantik di Rasabou Bima Ikut Gerak Jalan Unik

Pak Kades menambahkan memang betul saat ini jaman-jaman Millenium semua serba canggih semua namun di budaya kita ini jangan sampai punah. Bagaimana nantinya dengan kegiatan ini kita terus dikembangkan supaya nanti bisa dipelajarigenerasi penerusnya. Tanpa budaya tanpa adanya gerakan-gerakan yang seperti ini budaya Nusantara akan sirna nantinya makanya kita sebagai generasi penerus harus berani mengajak generasi penerus nantinya bisa mewujudkan yaitu budaya khas Indonesia di Jawa pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Suwito berpesan supaya bisa memahami mana budaya yang sifatnya pembawaan dari nenek moyang kita dan budaya yang bukan dari nenek moyang kita. Seperti wayang ini ini juga menceritakan tentang sejarah asal usulnya bagaimana perkembangan-perkembangan budaya dari zaman kerajaan sampai zaman sekarang ini Inilah kita bisa memanfaatkan bisa memberikan suri tauladan kepada generasi penerus supaya bisa memahami makna kehidupan yang sebenarnya dan jangan sampai musnah kebudayaan Nusantara ditelan oleh jaman.(msa)

Artikel Lainnya

Back to top button