Mataram.mediajurnalindonesia.id -Partai ibarat kendaraan bagi pasangan calon (paslon) kada. Kendaraan bisa bermacam-macam model dan bentuknya. Tujuannya satu yaitu agar paslon kada bisa sampai tujuan di mana mereka bisa mendaftar sebagai paslon sah di KPU.

Sedangkan untuk visi misi paslon kada dapat dibuat oleh banyak pihak di internal paslon kada tersebut. Tidak ada dominasi dari partai pengusung dalam hal pembuatan visi misi, karena bagaimana pun visi misi harus dibuat sedekat mungkin dengan kebutuhan masyarakat. Sekali lagi partai pengusung tidak menjadi jaminan pembuat visi misi paslon kada, meskipun juga partai pengusung memungkinkan untuk mengusulkan program.

Seperti paslon kada nomer 1 Rohmi-Firin dibuat oleh tim sesuai dengan situasi dan kondisi masyarkat NtB. Dalam kata lain visi misi yang dibuat tidak mungkin bertentangan dengan kondisi sosial- budaya dan agama yang ada di NTB. Bahkan visi misi 01 hendak menyelaraskan kondisi yang ada agar tidak bertentangan sebagai kondisi masyarakat NTB yang majemuk dan multi etnik.

Tidak ada istilah dominasi sosial budaya tertentu apalagi dominasi ras suku tertentu selain dari prinsip-prinsip egaliter ( kesetaraan) untuk semua. Oleh karenanya masyarakat NtB jangan sekali-kali mau dijejali oleh kampanye hitam di mana 01 yang dengan kendaraan Perindo di dalamnya hendak membuat NtB menjadi terdominasi etnis Cina. Jelas ini kampanye hitam murahan.

Bagaimana mungkin NTB mau dicinaisasi. Sesuatu yang sangat tidak masuk akal, namun bagi pihak-pihak tertentu hal demikian dapat saja mereka lakukan demi mempengaruhi masyarakat yang tidak terbiasa berfikir logis dan panjang. Kendatipun mereka tahu bahwa hal itu tidak mungkin terjadi, tetapi karena hasrat untuk memenangkan pertarungan Kada sangat memuncak, sehingga harus dilakukan dengan berbagai cara.

Padahal dengan isntrumen mengahalalkan segala cara menampakkan qualitas diri mereka. Di luar nampak sebagai orang-orang intelek, sebagai orang-orang terdidik di Universitas-universitas terbaik di dalam maupun luar negeri, tetapi tidak bisa mencegahnya dari berbuat hal-hal konyol dan tidak demokratis. Hal ini tentu saja tidak patut dibiarkan.

Untuk itulah tulisan ini diturunkan agar kembali pada prinsip-prinsip demokrasi berkeadaban. Demokrasi memang pada dirinya ada pertunjukan (kontestasi) bagi semua masyarakat, lalu dikembalikan kepada masyarakat guna memilih. Dalam perjalananya peserta kontestasi dituntut bermain fair dengan berbagai macam kreativitas yang dapat mendongkrak nilai elektabilitas. Pada titik tertentu kadang kreativitas untuk mendapatkan tingkat keterpilihan dilakukan dengan menjelekkan (kampanye hitam) kontestan lain maka hal itu tentu harus diingatkan, karena itu sama dengan memfitnah.

Memang pada pendekatan aliran realisme politik semua cara dihalalkan. Pada saat yang sama juga gudang moralitas menyediakan nilai-nilai. Apakah kemudian mau menghamba pada nilai-nilai buruk atau kah memilih setia pada nilai-nilai standar baik. Semua itu terpulang pada para kontestan dan tim kreatif nya.

Pada konteks Indonesia di mana warganya sebagai pemeluk agama sepertinya hendak mempertahankan nilai-nilai moral yang baik. Begitu juga dengan NTB didominasi oleh orang-orang beragama di mana semangat toleransi antar agama juga terpelihara dengan baik. Pada konteks demikian layak dinukilkan di sini apa yang pernah disampaikan oleh seorang sastrawan besar Rusia (Leo Tolstoy) yang mengatakan bahwa “Jangan ceritakan agama mu kepada ku, izinkan aku melihat agama mu dalam tindakan mu”.

Oleh karenanya sebagai warga NtB yang beragama yang ditahbiskan lewat berbagai ritual yang nampak tentunya harus sejalan dengan tindakan sehari-hari. Jika tidak bisa diselaraskan dengan ritual-ritual yang dilaksanakan lebih baik jangan sebut-sebut diri sebagai orang beragama karena itu sesuatu yang memalukan. Bagaimana pun lebih bermakna tindakan dari hanya sekedar omon-omon.(Tim Rohmi -Firin)