Ragam Informasi
Trending

Berbhineka Antar Umat Beragama Dalam Memperingati Satu Abad Harlah NU

Sidoarjo, Mediajurnalindonesia.id – Harlah NU yang seabad beberapa waktu yang lalu ternyata meninggalkan pernak-pernik yang unik dan menarik tapi luput dari perhatian masyarakat. Salah satunya adalah tempat ibadah atau sekolah non muslim yang mendukung atau membantu kegiatan harla berupa membentuk posko untuk tempat menginap para tamu dari luar kota bahkan luar pulau. Ini bisa digambarkan bahwa pada harlah NU menunjukkan kebhinekaannya sudah tertanam dengan kuat pada masyarakat, saling bergotong-royong dan saling membantu tanpa memandang suku agama ras.

H. M. Rojik dari DPRD Sidoarjo menjelaskan menurut kami memang NU sudah menjadi jati dirinya. NU bukan hanya untuk warga NU tapi NU untuk semuanya kalau dibilang dalam kaidahnya NU itu rahmatan lil alamin yang namanya rahmatan lil alamin artinya semuanya di luar NU, di luar muslim, di luar apa saja itu yang berkaitan dengan kehidupan itu menjadi tanggung jawab NU.

“NU sudah menjadi jati dirinya. Dimana NU bukan hanya untuk warga NU saja tapi untuk semuanya tanpa kecuali dalam berkehidupan,” kata H. M. Rojik

Pak Dewan menambahkan harapan kami sebagai warga Nahdliyin momen ini menjadi tambahan motivasi karena selama ini ada FKUP (Forum Komunikasi Umat Beragama). Ada forum lainnya yang senantiasa bergandeng renteng, bergandeng tangan antara NU dan juga warga Kristiani dan juga non muslim intinya sampai hari ini tetap konsisten continue bersinergi.

“Kedepannya bisa lebih saling bersinergi antar umat beragama baik itu muslim ataupun non muslim,” terang abah dewan.

Pendeta Elia Hartono Unpapar Pendeta GPIB Bethesda Sidoarjo menjelaskan ada dua hal yang bisa dilihat. Pertama dari sudut iman Kristen, dimana diajarkan untuk selalu mengasihi sesama, mengasihi Tuhan. Kedua gereja di Sidoarjo sebagai warga negara. Berbicara mengenai warga negara, maka berbicara tentang bangsa dan negara. Bahwa Indonesia itu terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras, bahasa karena itu kami memahami bahwa kita tinggal di Indonesia tidak sendiri ada saudara kami di kanan kiri depan belakang dari suku yang berlainan, dari agama berlainan, apabila tinggal di masyarakat kita bertemu dengan keberagaman. Kita tidak bisa hidup sendiri, pasti membutuhkan orang lain. Artinya harus membangun kerjasama, saling menolong, saling membantu, saling memperhatikan satu sama lainnya. Dalam konteks itulah maka gereja yang hidup dalam lingkungan di mana ada saudara-saudara yang berbeda iman harus berbaur.

BACA JUGA   Safari Ramadan di Mako Brimob, Kapolda NTB Bagikan Bansos Ke Masyarakat Pesisir

“Ada dua hal pembentukan posko Harlah NU. Pertama dari sudut iman Kristen, kedua gereja di Sidoarjo sebagai warga negara,” terang Pendeta Ella.

“Momentum saling membantu terjadi saat Halah NU beberapa waktu yang lalu. Gereja GPIB Bethesda Sidoarjo membuka posko untuk menginap saudara kita dari Lampung,” imbuhnya.

Bapak pendeta menambahkan momentum ini didapat saat satu abad harla NU. Warga NU juga saudara kami dalam kehidupan berbangsa. Karena itulah kami juga yang datang untuk membantu karena yang datang pada saat acara pasti lebih dari satu juta yang hadir oleh karena itu kami berpikir apa yang bisa kami bantu. Setelah kami mendapatkan informasi dari pengurus cabang NU Sidoarjo, Kelurahan dan FKUB Sidoarjo yang juga menghimbau untuk ikut membantu. Maka dari itu kami membentuk posko yang memberikan tempat singgah atau tempat menginap beserta makan, minum dan snack. Dan posko yang dibentuk ternyata disambut dengan gembira dengan saudara-saudara kami dari Nahdlatul Ulama melalui koordinasi PC NU Sidoarjo. Gereja GPIB menampung kurang lebih sekitar seratusan saudara-saudara NU dari Lampung terutama Lampung Selatan itu yang menginap. Dan yang tidak mengidap atau sekedar mampir untuk makan dan minum jumlahnya lebih banyak.

Ketua Majelis Jemaat mengatakan harapan kedepannya Jemaat GPIB Bethesda Sidoarjo dengan senang hati membantu kegiatan saudara-saudaranya sebangsa dan setanah air Dan saya yakin Jemaat di Sidoarjo selalu terbuka dengan kegiatan-kegiatan lain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena kesatuan dan keutuhan berbangsa menjadi tanggung jawab kita bersama.

BACA JUGA   HMS, Di Penangkaran Rusa Lereng Gunung Tambora Ada Yang Diberi Nama Susi

“Harapan kedepannya kita dengan hati membantu kegiatan saudara-saudara sebangsa dan setanah air apabila ada kegiatan,” kata Ketua Majelis Jemaat

KH. Zainal Abidin M. Pdi. Ketua PC NU Sidoarjo mengatakan memang pada hari itu menjadi kenyataan bahwa teman-teman baik dari warga Nu, teman-teman Muhammadiyah dan juga teman-teman dari gereja juga ikut berpartisipasi memberi fasilitas tempat untuk beristirahat, memberi makan, minum sehingga kami memandangnya bahwa NU itu adalah organisasi yang memang penyangga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mulai dulu sampai saat ini orang sudah tidak lagi alergi dengan NU karena sikap yang dibangun oleh NU selama ini selalu toleransi moderat tawasul prinsip-prinsip yang dimiliki NU. Sehingga siapapun itu pasti akan bisa nyaman berteman, bersahabat, berkumpul, berkomunikasi, bekerja sama dengan Nahdlatul Ulama. Karena memang prinsip yang dimiliki oleh NU adalah yang seperti saya katakan tadi.

“Pada saat acara memang teman-teman dari luar NU seperti Muhamadiyah, gereja, sekolah Kristen ikut berpartisipasi karena NU selalu toleransi moderat tawasul,” terang KH. Zainal Abidin M. Pdi.

“Karena Indonesia terdiri dari berbagai agama maka kota harus membangun kebhinnekaan, kebersamaan untuk membangun bangsa dan negara,” tambah pak Kyai.

Pak Kyai mengatakan memang nyatanya dilihat pagelaran satu abad kemarin teman-teman dari gereja memfasilitasi bahkan sebelum H -1 itu ada teman-teman media dari gereja datang ke sini kita melakukan diskusi. Kami juga apresiasi karena itu dari membangun kebersamaan dalam sebuah kebhinekaan di Indonesia karena kita itu sama-sama menjadi warga negara Indonesia yang agamanya juga bermacam-macam maka ketika kecintaan kepada bangsa dan negara yang baik maka sudah pasti menjadi kewajiban kita bersama untuk bagaimana membangun bangsa secara bersama-sama persoalan ideologi atau keyakinan biar itu menjadi wilayah masing-masing tidak usah mencampuri keyakinan masing-masing tapi dalam sebuah kebhinnekaan, keragaman dan kenegaraan maka kita bersama-sama membangun bangsa, sama-sama untuk berkoordinasi komunikasi dalam rangka membangun bangsa dan negara.(msa)

Artikel Lainnya

Back to top button